Setiap proyek diberi catatan koordinat, material, dan luas — cara kami mendokumentasikan bangunan sejak masih berupa gambar kerja. Klik salah satu untuk membaca detailnya.
Rumah Ambang berangkat dari satu pertanyaan sederhana: bagian mana dari rumah yang paling sering ditinggali penghuninya, tapi paling jarang dirancang dengan sungguh-sungguh? Jawabannya ada di ambang — teras, koridor, dan selasar yang menghubungkan ruang dalam dan luar.
Kami menempatkan koridor selebar 2,4 meter di sisi timur bangunan sebagai ruang transisi utama, dilengkapi bukaan kayu yang bisa disesuaikan mengikuti arah angin dan hujan. Struktur beton expose dibiarkan tanpa finishing tambahan untuk menonjolkan tekstur cetakan bekisting kayu, selaras dengan elemen kayu ulin pada kusen dan lantai teras.
Dibangun atas permintaan warga sebagai balai pertemuan lingkungan, Balai Serumpun menggunakan atap tajuk tinggi untuk memaksimalkan ventilasi silang tanpa pendingin ruangan. Rangka atap baja ringan ditutup anyaman bambu petung yang dikerjakan oleh pengrajin lokal.
Denahnya sengaja dibiarkan terbuka di keempat sisinya, sehingga balai bisa menyesuaikan diri dengan berbagai acara — dari rapat RT, pengajian, hingga resepsi pernikahan — tanpa perlu partisi permanen.
Bangunan bekas gudang karet ini kami renovasi menjadi kantor sekaligus showroom untuk klien yang bergerak di industri karet olahan. Alih-alih menghilangkan jejak fungsi lamanya, kami mempertahankan dinding bata ekspos dan mengubah drum-drum karet bekas menjadi elemen partisi serta lampu gantung.
Denah kantor dibuat sepenuhnya terbuka dengan zonasi lunak menggunakan level lantai, bukan dinding, untuk menjaga transparansi antar divisi sekaligus efisiensi ruang.
Rumah akhir pekan ini dibangun di lereng dekat aliran riam (jeram kecil) di dataran tinggi Loksado. Fondasi menyesuaikan kontur tanah tanpa pemotongan besar, dan seluruh struktur kayu didirikan menggunakan sistem panggung untuk menghindari kelembapan tanah.
Batu-batu sungai dari lokasi tapak digunakan kembali sebagai material pengisi dinding rendah dan pijakan tangga, mengurangi kebutuhan material yang harus diangkut dari kota.
Warung makan kecil ini dirancang dengan anggaran terbatas, menggunakan kayu bekas bongkaran rumah panggung lama di sekitar lokasi. Panggung kayu diangkat 60 cm dari muka air untuk mengantisipasi pasang musiman sungai Martapura.
Bukaan besar di sisi sungai sengaja dibiarkan tanpa dinding, hanya kerai bambu yang bisa digulung, agar pengunjung bisa makan sambil menghadap langsung ke aktivitas pasar terapung di dekatnya.
Proyek ini adalah reinterpretasi rumah panjang tradisional Kalimantan untuk delapan keluarga dalam satu klan besar, yang ingin tetap tinggal berdekatan tanpa kehilangan privasi masing-masing unit. Koridor komunal sepanjang bangunan menjadi ruang sosial utama, meniru fungsi selasar pada rumah panjang aslinya.
Setiap unit memiliki pintu masuk dan teras kecil sendiri yang menghadap koridor, sementara struktur utama menggunakan kombinasi beton pada level tanah dan kayu ulin pada level atas — mengikuti logika material rumah panggung tradisional.
Proyek pertama Studio Ambang yang dibangun setelah pendiriannya: studio kerja kecil untuk seorang perajin mebel di Banjarbaru. Bangunan ini menjadi semacam manifesto awal — sederhana, jujur secara struktur, dan sepenuhnya menggunakan kayu meranti lokal.
Atap sebagian menggunakan lembar polikarbonat bening untuk memasukkan cahaya alami ke area kerja utama tanpa panas berlebih, berkat kanopi kayu tambahan di atasnya yang menyaring sinar matahari langsung.